09/08/10

Teluk Di Bibir Teluk

Sisi utara teluk Bima memanjang sekitar 20 kilometer dari ujung utara kelurahan Melayu Kota Bima hingga kelurahan Kolo di ujung utara. Disini terbentang pantai-pantai dan teluk-teluk mungil yang indah mempesona. Ada empat teluk Mungil yang telah lama menjadi tempat persinggahan kapal-kapal nelayan dan para pedagang sejak dulu, yaitu teluk So Nggela, Toro Londe, Bonto serta Kolo. Disamping itu, terdapat pantai-pantai yang indah seperti pantai Oi Ule, So Nggela, Bonto, serta Pantai pasir putih So Ati yang berada di ujung utara pantai Kolo.

Menjelajahi pesisir utara teluk Bima melalui jalur laut sungguh menyenangkan. Dari pelabuhan Bima menyebrang ke utara, dan sekitar 10 menit perjalanan kita akan sampai di pantai Oi Ule. Dalam catatan sejarah Bima, Oi ule merupakan tempat pemukiman pertama orang-orang Melayu dan para ulama dari Pagaruyung dalam menyebarkan Agama Islam di tanah Bima pada sekitar abad ke-17. Di Oi ule inilah tempat Sultan Abdul Khair Sirajuddin(1648-1658 M) mengangkat sumpah setia kepada para gurunya untuk tetap berpegang teguh pada islam. Sehingga Perayaan upacara Adat Hanta UA Pua pertama kali mengambil start di Oi Ule sebelum berpindah ke kampung Melayu sekarang. Salah satu bukti keberadaan orang-orang Melayu di pantai ini terdapat kuburan-kuburan tua yang merupakan kuburan orang-orang melayu dan para ulama yang menyiarkan agama Islam di Tanah Bima di lereng bukit Oi Ule.


Di sebelah barat Oi Ule sekitar 1 kilometer terdapat teluk mungil So Nggela. Teluk ini memiliki lekukan sekitar 1 kilometer dan terdapat sebuah dermaga kecil dengan panjang sekitar 30 meter yang dibangun oleh Pemerintah kota Bima. Ada juga Keramba Jaring Apung yang menjadi tempat budidaya kerapu tikus oleh Dinas Kelautan Dan Perikanan Kota Bima. Disini juga bermukim sekitar 30 kepala Keluarga yang berprofesi sebagai nelayan dan juga petani tegalan. Ada juga pendatang yang memang bermukim sementara waktu untuk memperbaiki dan mengecet perahu, beristirahat dari terpaan angin musim maupun untuk berdagang.

Semakin ke utara kita akan menemukan pantai dan teluk yang indah. Sekitar 15 menit perjalanan kita akan tiba di teluk Toro Londe. Bentangan pantainya sekitar 500 meter dan sejak dulu menjadi tempat mancing yang menyenangkan. Banyak warga Bima yang memancing di sekitar perairan ini. Dalam legenda tanah Bima sebagaimana dilukiskan dalam Kitab BO( Kitab Kuno Kerajaan Bima), di teluk inilah tempat ditemukannya mata pancing Raja Indra Zamrut setelah sekian lama terjerat dalam moncong sebuah ikan besar yang diberinama Ruma Londe. Berkat kehebatan dan kesaktian adik Indra Zamrut yang bernama Indra Komala, mata pancing itu pun dapat ditemukan kembali.

Sekitar 15 menit perjalanan kita akan menemukan satu lagi teluk yang indah, tenang dan damai yaitu teluk Bonto. Diameter lekukan teluk ini hampir sama dengan So Nggela, namun lebih terlihat menjorok ke daratan dan sangat terlindung dari angin musim karena di sebelah utara maupun selatannya dilindungi oleh pegunungan. Karena tertutup dan diapit oleh pegunungan, maka teluk ini dinamakan Bonto yang dalam Bahasa Bima berarti Bonto. Bonto merupakan salah satu dusun dari Kelurahan Kolo kecamatan Asa Kota yang dihuni oleh sekitar 70 KK. Teluk ini juga menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang dan nelayan dari berbagai pulau. Disamping perahu dagang di teluk ini pula bersandar bagang-bagang warga yang jika memasuki malam hari nyala lampunya cukup terang dan tampak indah. Dua Kilometer dari Teluk Bonto kita akan menjumpai Pantai Bonto yang teduh dan berpasir putih. Namun saat ini di sekitar pantai ini tengah dibangun Pusat Listrik Tenaga Uap oleh PT. PLN Persero. Kebun kelapa yang dulunya rimbun telah berubah menjadi tumpukan tanah, batu, Bescam, pipa-pipa besar, serta material lainnya untuk pembangunan PLTU.

Di sebelah barat Bonto, tepatnya di seberang Asa Kota kita akan melihat sebuah bukit kecil yang memiliki luas sekitar setengah hektar yang dia atasnya cukup rata. Orang-orang menyebutnya dengan Benteng Asa kota. Karena di sini terdapat tumpukan batu batu yang tersusun rapi layaknya sebuah benteng pertahanan. Di sudut-sudutnya terdapat meriam. Namun sayang meriam itu sudah tidak ada lagi. Dalam catatan sejarah Bima, Benteng ini didirikan oleh sultan Abdul Khair Sirajuddin bersama Karaeng Popo pasca penandatanganan perjanjian Bongaya pada tahun 1667 M. Benteng ini dibangun untuk menghalau kapal-kapal VOC yang memasuki teluk Bima dan melintasi Laut Flores.

Terus Ke Utara kita akan memasuki perairan kelurahan Kolo. Bagang-bagang, kapal nelayan, kapal barang, orang-orang yang memancing, menyelam mencari ikan adalah pemandangan yang cukup menarik di sekitar perairan kolo ini. Sejak tahun 1945, Kolo telah dikenal oleh masyarakat Bima sebagai importir barang-barang dari Singapura. Dan sudah lama pula warga kolo ini menjalin hubungan yang harmonis dengan para Cukong dan Toke di Pulau Batam maupun Singapura. Hampir setiap bulan mereka berlayar menuju Batam dan Singapura untuk membeli barang-barang seperti pakaian dan alat elektronik untuk dijual kembali di Bima. Menurut Yanti, salah seorang pedagang pakaian bekas dari Singapura, untuk satu karung pakaian singapura mereka beli dengan harga sekitar Rp.500.000 sampai Rp.750.000,-. Dalam satu karung itu mereka bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp.250.000 bahkan melebihi modal kalau pakaian yang ada di dalam karung itu berkualitas dan bagus coraknya.

Di ujung Kelurahan Kolo terdapat pantai berpasir putih yang diberinama Pantai So Ati. Di skitar pantai ini tumbuh ratusan pohon kelapa yang menambah teduhnya pantai ini. Di perairan pantai ini terdapat terumbu karang dan taman laut yang indah.Di pantai ini sangat cocok untuk diving dan snockling. So Ati memang sejak dulu telah menjadi salah satu obyek wisata pantai bagi warga Kolo dan sekitarnya, bahkan masyarakat Bima pada umumnya. Pada setiap hari libur pantai ini dipadati pengunjung.

Sudah saatnya potensi dan pesona alam di sepanjang sisi utara teluk Bima ini dikelola dan dimanfaatkan baik dalam rangka pemberdayaan masyarakat pesisir maupun pengembangan sektor kepariwisataan.Jalan Melayu- Kolo sepanjang 15 Km perlu segera diperbaiki untuk memperlancar transportasi di kawasan ini. Disamping itu perlu identifikasi dan pemetaan obyek-obyek pantai dan teluk-teluk ini untuk secara bertahap dilakukan penataan dan pengelolaan. Sebab semakin lama, pantai-pantai dan kebun-kebun di sepanjang pesisir utara ini telah banyak dibeli dan dimiliki oleh pengusaha-pengusaha Cina dan para pejabat. Ini tentunya akan menjadi sebuah kendala besar ketika Pemerintah Daerah akan mengelola pantai-pantai ini. Disamping itu, Pemerintah Daerah perlu mendorong dan mengajak investor lokal untuk secara bersama-sama mengelola potensi ini untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi keejehateraan masyarakat pesisir utara teluk Bima serta untuk menggali sumber-sumber PAD baru.

sumber : http://alanmalingi.wordpress.com/2010/07/01/teluk-di-bibir-teluk/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar